ANAKKU
Anakku …….
Aku tahu tentu kau bingung
Melihat ulahku yang tak pernah kau bayangkan
Ketidakjujuran, kecurangan, jorok, menjijikkan
Atau……….
Entah apa lagi
Anakku……
Mungkin masih kau ingat
Bagaimana aku selalu mengajarimu berlaku jujur
Mungkin masih terngiang di telinga kemarahanku
“Ayo! Kerjakan sendiri! Jangan menyontek!”
Anakku…..
Mungkin kau akan malu
Melihat tingkah lakuku
Mengendap-endap di antara ruang-ruang kelasmu
Mengintip-ngintip di sela kamar kecil-kamar kecil yang bau
Layaknya seorang pengecut
Atau seorang maling
Berjalan berjingkat, menengok ke kiri dan ke kanan
Hanya untuk memberimu kertas contekan
Yang mungkin tak pernah kau harapkan
Justru di saat kau ujian
Ah………………
Anakku……
Jangan pernah kau tanya mengapa
Aku takkan tahu jawabnya
Jangan pernah bertanya ini salah siapa
Aku takkan tahu jawabnya
Bahkan aku tak tak tahu harus bagaimana
Bertanggung jawab terhadap diriku
Ataukah memang benar kami generasi comberan yang tak berarti
Yang malah menjadi lembaran-lembaran hitam sejarah peradaban
Anakku…..
Kuserahkan semua padamu
Tajamnya mata hatimu akan memberitahumu
2 Nov. 2009
GALAUKU
Lihatlah !
Bumi pun hancur berkeping-keping
Terpanah cahaya bulan yang menyilaukan
Menggeliat, menggelepar, kelimpungan
Lihatlah !
Dia berjalan tertatih
Menata hati
Membenah diri
Walau akhirnya tenggelam
Dalam ketidakberdayaan
Oh…… bulan
Begitu menyilaukan cahayamu
Hingga mata bumi
Tak lagi mampu menatap
Hancur, hingga ke hatinya
Oh……..bulan
Sinar benderangmu membakar hati
Membarakan semangat
Menenggelamkan sukma
Tak pernah padam
Tak adakah senoktah titik hitam
Hingga mata hati bumi bisa berkedip barang sejenak
Meski itu bukan sebuah titik tolak
Untuk berpaling
Lihatlah !
Akhirnya bumi pun tertidur
Berselimut kelam malam
Berbantal kegalauan
Dalam mimpinya……..
Bulan berada dalam peluk eratnya
Takkan dilepaskan !
Takkan dilepaskan !
2 Nov 2009
DERITA MALAMKU
Ini kali
Sungguh aku tak mampu
Menahan rasa hatiku
Merindu
Padamu
Aku tahu kita takkan mungkin bersatu
Untuk memadu angan dan asa
Untuk jalani suka dan duka
Berdua
Kasih……….
Kaulah urat nadiku
Dalam semu dan nyataku
Dalam angan dan pikiranku
Dalam kecerahan pagiku
Dalam panjangnya tidur malamku
Kau ada di meja kotorku
Pada kumalnya kertas-kertas berserakan
Pada perjalanan pagiku yang sering kesiangan
Pada perjalanan pulangku yang penuh kekecewaan
Kasih…………
Kecewamu adalah kesedihanku
Tangismu adalah deritaku
Lemahmu adalah semangatku
Untuk menjagamu
Untuk kokohkan tegarmu
Tatap kehidupan
Hadapi terjalnya kenyataan
Kasih…..
Tak kutemukan celamu
Hingga aku mampu lupakanmu
Untuk sesaat, untuk sekali waktu
Semakin kucari
Semakin tak kumengerti
Membatu hati ini
Kasih …………..
Mengapa ini musti terjadi
Jika sekian banyak hati tersakiti
Kenapa tak pernah padam
Walau kelam malam
Menggulung cahya bulan
SURAT TERBUKAKU…
Buat : A
Entahlah….
Bagaimana harus kutumpahkan rasaku
Yang tak ku ingin seorangpun tahu
Tentang sayangku, tentang rinduku, tentang gemasku
Padamu
Ku tahu tak mungkin kuungkapkan
Tak mungkin ku ucapkan
Entah sampai kapan mampu kupendam
Segala rasa yang selalu ada
Membeku dan membatu
Dalam dada
Dikaupun tak kuharap
Tuk menengok goresanku
Biarlah akan hilang
Diterbangkan angin, larut dalam hujan, atau menguap tak berbekas
Entah kemana
Entah kemana
Tuhan
Tolonglah hambamu
Bagaimana musti kuhadapi semua
Bagaimana musti kujalani semua
Kumohon petunjuk-Mu
Tuhan…..
Kumohon petunjuk-Mu
Kumohon petunjuk-Mu
Kumohon petunjuk-Mu
MAAFKAN AKU TELAH MEMILIHMU
Maafkan aku
Bila ku memilihmu
Bukan karena kau amanah
Bukan karena kau sanggup merubah
Tata kehidupan yang memang telah bubrah
Tapi karena memang tak ada pilihan
Aku tahu kau bukan pilihan terbaik
Tapi….
Aku harus memilih bukan?
Karena tak memilih berarti menyerah pada keadaan
Karena tak memilih berarti dipilihkan
Yang belum tentu lebih jernih dalam pemilahan
Ah………
Andai ada pilihan
Hingga apa yang telah kulakukan
Mampu kupertanggungjawabkan
MAAFKAN BILA KUMENCINTAIMU
Yang ku tak tahu
Mengapa cinta menyeruak kalbu
Padamu……..
Sungguh…….
Nalarku berkata tidak
Tuk hasrat nan menggelora
Yang tak bisa sirna
Dalam dada
Entahlah……..
Bagaimana harus kutata
Jiwa dan rasaku
Semakin kusimpan
Semakin kupendam
Menusuk, menghunjam dada kian dalam
Atau…
Mustikah ku ungkapkan semua
Tentang segala rasa
Yang kian berat menghimpit sukma
om………
suwun yo adobe nya!!!!
tapi corel nya kok gag ad???
tak enteni kbr brikutnya,,,,
bsk preian tak rono insya Allah.
—> Corelnya masih ketlingsut. Tapi sekarang dah ketemu. Ada beberapa seri. Nanti lebaran ae bisa di copi.
September 25, 2008 pada 2:44 am
Blog bagus. teruskan perjuangan di pendidikan. Puisi bagus. Siplah.
—–> Wah…… Terima kasih sekali Bapak telah berkenan menengok blog saya. Tapi saya jauh dari produktif. tidak seperti Bapak. Ajari dong Pak, biar lebih produktif seperti Bapak.