Oleh: sastrosuwiryo | April 27, 2008

PENGAWAS UAN

 

Ketika beberapa orang guru tiba kembali ke sekolah sehabis mengawasi pelaksanaan try out di sekolah yang notabene menjadi induk sub rayon, mereka menggerutu kepada kami. Permasalahannya mungkin sederhana, sekolah tesebut tidak menjalankan seperti kesepakatan/aturan yang diberlakukan, yakni memulai try out pukul 06.45 WIB. Padahal jadwal pelaksanaan semestinya adalah pukul 07.00 s.d. pukul 09.00  WIB. Sehingga teman-teman guru yang menjadi pengawas di sekolah tersebut semuanya datang terlambat. Mereka datang pada saat anak-anak telah memulai mengerjakan soal-soal try out dengan diawasi oleh panitia sekolah setempat. Hal ini mungkin tidak semestinya dipermasalahkan, tetapi tetap saja menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan. Banyak praduga negatif berkaitan dengan hal itu.  

Kalau kita menengok salah satu prinsip Pendekatan Pembelajaran Quantum (Quantum Learning) adalah bahwa segalanya berbicara. Demikian halnya dengan peristiwa ini. Banyak kemungkinan ‘pembicaraan’ yang diungkapkan oleh peristiwa ini kepada siswa. Mungkin dalam benak salah seorang siswa akan berbunyi: “Guru sekolah lain itu tidak profesional. Mereka tidak tepat waktu seperti guru-guru kita.” Dalam benak siswa yang lainnya bukan akan berbunyi: “Try out itu hanya main-main. Tidak serius. Berarti Ujian Nasional nanti juga seperti ini.” Atau mungkin juga berbunyi: “Sekolah lain itu guru-gurunya tidak rajin seperti sekolah kita. Makanya tidak maju-maju.”

 

Selain keluhan jadwal pelaksanaan yang dimajukan di atas, satu keluhan lagi yang dikeluhkan oleh teman-teman pengawas di sekolah tersebut. Pada saat pelaksanaan try out, suasana kelas sedemikian ributnya. Anak dengan santainya bekerja sama dengan temannya, saling meminta dan memberi jawaban antara yang satu dengan yang lalinnya. Sehingga suasana kelas pada saat try out lebih ‘amburadul’ bila dibandingkan dengan suasana pembelajaran di kelas. Tidak hanya itu. Seorang anak dalam sebuah ruang ujian (try out) bisa bertanya jawaban dari anak di ruang lain. Bahkan salah seorang teman guru sempat terkena lemparan kertas di kepalanya, yang berupa jawaban soal yang diberikan oleh anak dari ruang sebelah.

 

Kegelisahan penulis semakin memuncak, ketiga penulis membaca tulisan salah seorang teman guru SMA di Kalimantan dalam Blognya. Pada saat ujian tahun ini, beliau menjadi pengawas ujian di sebuah sekolah. Kejadiannya kurang lebih sama dengan yang dialami teman-teman pengawas try out sekolah kami tersebut. Bahkan- masih menurut teman guru SMA di Kalimantan tadi- ada seorang guru yang sehabis ujian kendaraannya dirusak oleh siswa yang diawasi pada saat pelaksanaan ujian hanya karena memperingatkan peserta ujian untuk tidak bekerja sama dalam menyelesaikan soal-soal.

 

Kembali pada konsep Pendekatan Pembelajaran Quantum (Quantum Learning) bahwa segalanya berbicara, kejadian ini tentu saja juga mengomunikasikan sesuatu pada siswa. Dalam benak siswa mungkin akan timbul pemikiran bahwa untuk mencapai sesuatu, kelulusan misalnya, apapun halal dilakukan. Tak hanya bertanya pada teman atau mencontek, bahkan melawan pengawas ujianpun halal untuk dilakukan. Bila pemikiran seperti ini melekat dalam benak siswa, apa jadinya bila mereka dewasa kelak. Apa jadinya bila mereka menjadi pemimpin-pemimpin negeri ini. Tak heran bila apapun akan mereka lakukan untuk mencapai tujuan mereka. Berbohong, menipu, memfitnah atau apapun akan mereka lakukan asal tujuan tercapai.

 

Menjadi pengawas tampaknya memang menjadi sebuah dilema. Sudah sedemikian jelas dan tegas tugas dan kewajiban pengawas ujian diatur oleh pemerintah. Untuk menjalankan tugas negara tersebut, pengawas dan panitia ujian telah diambil sumpah terlebih dahulu. Namun sekarang, sumpah tampaknya tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Atau mungkin orang tidak takut lagi dengan sumpah, meski diawali dengan kalimat : Demi Allah aku persumpah.

Berkaitan dengan ketidaktakutan manusia kepada Penciptanya, penulis teringat masa dua tahun silam ketika penulis sempat menjadi pengawas ujian. Sebelum pelaksanaan ujian, para calon pengawas ruang dikumpulkan di Sub Rayon untuk memperoleh pembekalan. Meskipun menjadi pengawas ujian adalah pekerjaan rutin, namun tampaknya perlu adanya pembekalan, mengingat selalu ada hal-hal baru dalam ujian yang perlu disosialisasikan.

 

Satu hal yang masih penulis saat itu adalah pengantar yang disampaikan oleh Kepala Sub Rayon. Diawali dengan tugas-tugas pengawas ujian, kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan dan sebagainya. Pada akhir sambutannya disampaikan bahwa bila ada ‘sesuatu’ dalam ruang ujian, pengawas ruang diharapkan untuk diam saja. Pura-pura tidak tahu. Bagaimana mungkin pengawas yang memang tugas dan tanggung jawabnya mengawasi, diminta untuk pura-pura tidak tahu kejadian dalam ruang yang diawasinya? Bahkan disampaikan bahwa :”Pengawas ruang tidak akan berdosa. Biarlah para kepala sekolah yang menanggung dosanya.” Persis sama dengan yang difirmankan Allah :

 

Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman: “Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu”, dan mereka (sendiri) sedikitpun tidak (sanggup), memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta. (Q. S. Al ‘Ankabuut 12)

 

Demikianlah kira-kira bila kita telah menuhankan kelulusan, menabikan kesenangan atasan, hingga apapun kita lakukan untuk itu. Mudah-mudahan hal seperti ini bukanlah potret umum pendidikan kita.

Wassalam….

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: