Oleh: sastrosuwiryo | Mei 18, 2008

SEMINAR PENDIDIKAN ‘KOLOSAL’ PART II

Hari Minggu, 18 Mei 2008, digelarlah Seminar Pendidikan ‘Kolosal’ Part II di GOR Kabupaten Magetan. Penulis sebut Seminar Panedidikan ‘Kolosal’ Part II, karena delapan hari sebelumnya telah digelar seminar yang sama ‘heboh’nya dengan seminar tersebut.

 

Pelaksanaan seminar (langka)  tersebut boleh dibilang sukses, bila melihat dari banyaknya peserta yang hadir. Menurut perkiraan penulis, seminar tersebut dihadiri sekitar 6.000 sampai dengan 7.000 peserta. Pembicara seminar juga tak kalah heboh, karena berdasarkan yang sayup-sayup penulis dengar, adalah asessor dari Universitas Negeri Malang dan CEO Jawa Pos, Bapak Dahlan Iskan.

 

Namun sayang penulis tak dapat mengikuti seminar sampai dengan selesai, hanya didorong rasa tidak enak dan rasa tertekan menghadiri seminar ini. Ditambah lagi, saking banyaknya peserta, semua yang disampaikan pembicara tidak begitu bisa penulis terima dengan jelas. Daripada berlama-lama duduk dengan ‘hasil’ tak pasti, akhirnya penulispun meninggalkan tempat seminar.

 

Seminar tersebut dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Magetan, setelah delapan hari sebelumnya digelar seminar yang sama oleh pengurus PGRI Kabupaten Magetan. Dari digelarnya kedua seminar tersebut, muncul kesan adanya ketidakharmonisan hubungan antara Dinas Pendidikan dengan Pengurus PGRI Kabupaten. Dari kedua kejadian ini, penulis teringat sebuah iklan handphone Nokia di televisi beberapa tahun yang lalu, yang berbunyi  : ada jiwa kekanak-kakakan pada diri setiap orang.

 

Kegiatan seminar telah banyak diketahui sisi positifnya. Bila kita kembali merujuk pada kamus besar Bahasa Indonesia, seminar adalah pembahasan suatu masalah ilmu pengetahuan maupun sosial yang dipimpin oleh seorang profesor atau ahli. Dalam seminar, tentu terjadi pembahasan masalah-masalah yang diangkat, dan merupakan jalan untuk lebih memahami suatu masalah dengan arif dan bijaksana karena banyaknya masukan, utamanya dari para ahli. Dengan demikian, inti mengikuti sebuah seminar adalah untuk memperoleh pengetahuan lebih berkaitan dengan masalah yang dibahas. Namun dewasa ini inti partisipasi seseorang untuk mengikuti sebuah seminar tampaknya mulai bergeser. Tidak lagi memperoleh pengetahuan, melainkan hanya sekadar mencari selembar kertas bertuliskan sertifikat.

 

Dengan digelarnya seminar kolosal seperti ini, ada beberapa hal yang perlu kita renungkan kembali.

  1. Hasrat mengikuti seminar yang hanya sekadar untuk memperoleh selembar kertas bertuliskan sertifikat yang semestinya dibuang jauh-jauh, malah semakin tumbuh subur dikalangan guru. Dari pengamatan penulis, ketika seminar berlangsung, tidak sedikit peserta yang tidak berada dalam ruangan, melainkan hanya duduk-duduk diluar ruangan, bahkan di tempat parkir. Bahkan ada peserta seminar yang hanya menitipkan biodata kepada teman, dan merekapun memperoleh sertifikat yang sama. Jadi mereka memperoleh sertifikat (yang bisa digunakan untuk kenaikan pangkat atau mengikuti sertifikasi) dengan tanpa tambahan pengetahuan sedikitpun. Jangan-jangan tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, malah memperoleh hasil sebaliknya, membodohkan. Seseorang bisa saja melampirkan sepuluh ‘sertifikat seminar nasional kolosal’ dalam berkas sertifikasinya misalnya, tetapi sebenarnya tidak sedikitpun pengetahuan bertambah dalam dirinya.
  2. Dalam kegiatan seminar seperti ini, pembahasan yang disampaikan pembicara tentu tidak dapat dipahami oleh peserta dengan sempurna. Ketika penulis mencoba mendengarkan pembahasanpun sulit dilakukan, karena bagaimanapun kualitas vokal pembicara kalah nyaring bila dibandingkan dengan suara riuh rendah yang dihasilkan oleh ribuan peserta. Ini berarti telah banyak dana, tenaga dan pikiran dikeluarkan, namun sedikit sekali hasil yang dapat diperoleh. Bila kita mengikuti seminar yang diadakan dengan ‘wajar’, kita lebih bisa berpartisipasi secara aktif, dalam bentuk mengajukan pertanyaan, memberikan tanggapan atau dalam bentuk lain. Kita memperoleh sertifikat, tetapi yang lebih penting dari itu, kita memperoleh tambahan ilmu pengetahuan.
  3. Untuk pembahasan-pembahasan masalah ilmu pengetahuan, tampaknya seminar semacam ini justru akan kontraproduktif. Bila masalah-masalah ilmu pengetahuan dibahas dalam seminar semacam ini, akan timbul kesan bahwa pembahasan ilmu pengetahuan itu demikian mudahnya, meski sebenarnya pembahasan ilmu pengetahuan itu juga tidak harus sulit dan rumit. Kesan yang menonjol adalah bahwa seminar itu yang penting ada pembicara bergelar doktor atau profesor dan peserta mendapatkan sertifikat, jadilah. Hasil-hasil seminar yang berupa tambahnya ilmu pengetahuan, menjadi nomor dua. Kalau seminar-seminar seperti ini akhirnya menjadi ‘trend’, akan sangat banyaklah sertifikat beredar di kalangan pendidik, tetapi tanpa membawa pengaruh apalagi perubahan apa-apa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: