Oleh: sastrosuwiryo | Mei 19, 2008

BERITA-BERITA SEPUTAR SEMINAR KOLOSAL DI MAGETAN

Minggu, 11 Mei 2008
Disorot, Workshop Guru Berbau Politis

 

MAGETAN – Dewan Pendidikan (DP) Magetan menilai workshop yang digelar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) setempat, kemarin (10/5), kental muatan politis. Utamanya menjelang pelaksanaan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim. “Kami sangat menyayangkan sikap PGRI yang berusaha membawa masuk para guru ke ranah politik praktis,” katanya.Menurut dosen Akademi Kesehatan Lingungan Magetan itu, indikasi politisisasi PGRI itu tampak dari hadirnya Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Jatim H Soekarwo yang juga calon gubernur, sebagai pembicara. “Apa relevansinya Sekdaprov dalam workshop tentang sertifikasi guru. Jelas ini ada muatan lain?’ ujarnya.

Keprihatinan juga diungkapkan Agus Tholib, salah seorang di SMP Plaosan. Menurutnya, saat ini ada pembelokkan visi perjuangan PGRI. Yakni dari ranah profesionalitas ke politik. “Kenapa kalau rapelan para guru macet PGRI hanya diam, padahal itu tangung jawab PGRI. Tapi kalau urusan yang berbau politik sangat aktif,” sindirnya.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Magetan Bambang Trianto mengatakan workshop tersebut merupakan progam dari pemprov. Sedang PGRI hanya dijadikan mediator di Magetan. “Sebenarnya Kepala Dinas P dan K Jatim (Rasiyo) minta kegiatan ini digabung dengan seminar dinas yang digelar pekan depan. Tapi PGRI tidak mau, makanya beliau (Rasiyo) tidak datang,” ungkapnya.

Bambang mengatakan sebenarnya tidak mengizinkan kegiatan workshop tersebut. Alasannya, digelar pada hari efektif belajar mengajar. Selain itu, kemarin masih ada ujian praktik tingkat SMP. “GOR Ki Mageti, stadion dan pendapa itu boleh saja digunakan siapa saja. Tapi yang tidak dibolehkan itu waktunya yang bertepatan hari efektif belajar. Kalau semua guru ikut semua, lantas siapa yang mengajar siswanya,” tandasnya.

Namun tudingan itu dibantah Ketua PGRI Cabang Magetan H Toyyib Rantiono. Menurutnya, kedatangan Soekarwo dalam workshop dalam kapasitas sebagai Sekdaprov. Selain itu, dia dianggap sebagai pejabat yang berjasa karena kebijakan kenaikan pangkat golongan IV bagi guru. “Kami juga undang kadindikprov meski hanya diwakili dan asesor sertifikasi dari Malang, bukan hanya Pakde (Soekarwo, Red),” kilahnya.

Secara prinsip, kata dia, guru tidak boleh berpolitik praktis. Tapi, sebagai kaum intelektual, guru juga tidak boleh hanya jadi penonton. Sehingga guru harus jadi pemain, karena politik pada dasarnya merupakan kebijakan. “Dan para guru harus terlibat pengambilan kebijakan karena itu menyangkut nasib kita,” tegasnya di hadapan ribuan peserta workshop. (dhy)

 

 

Sumber  : Jawa Pos Online

 

 

 

Pilkada Kabupaten Magetan

Ra-Ja Tunggangi Seminar Guru, Tim SMS Mengecam

 

Reporter : Ajun Ally

 

Magetan – Tim Sukses dan Pemenangan Calon Kepala Daerah dan Calon Wakil Kepala Daerah Kabupaten Magetan dari PDI Perjuangan yakni pasangan Soemantri dan Samsi (SMS) mengecam pengerahan para pendidik (guru) di GOR Ki Mageti dengan agenda dibungkus seminar pendidikan, Minggu (18/5/2008).

Laporan itu, langsung mendapat apresiasi dari Wakil Ketua Komisi X DPR-RI, Riya Ahmady sebagai bentuk pelanggaran. Sesuai keterangan dari ke-3 pelapor, pembelokan dilakukan Plt Bupati Magetan yang maju dalam Pilkada dari Partai Golkar (Raja).

Kondisi pendidikan di Kabupaten Magetan ingin maju, maka kepala daerahnya harus tetap atau sama seperti dulu. Kalimat seperti itu, jelas-jelas mengajak para pendidik untuk memilih dirinya.

“Kami menerima laporan tiga orang peserta adanya pembelokan agenda ke arah Pilkada,” ujar Riya Ahmadi kepada wartawan, usai pertemuan kader di Kantor DPC PDIP Kabupaten Magetan.

Menurutnya, awal pembacaan sambutan Kepala Dinas Pendidikan Jatim oleh Plt Bupati Magetan, Miratul Mukminin berlangsung sesuai isi sambutan. Namun pembelokan terjadi usai membacakan sambutan tersebut.

Untuk itu, Riya tidak akan tinggal diam melihat masalah itu dan akan membawa masalah tersebut ke tingkat Komisi X DPR-RI. Selain itu, timnya akan mengklarifikasi masalah tersebut kepada Mendiknas (Menteri Pendidikan Nasional), Kepala Dinas Pendidikan Jatim hingga Kepala Dinas Pendidikan setempat.

“Untuk Tim Sukses dan Pemenangan SMS, agar segera melakukan penelusuran,” jelasnya serius.

Ia mengatakan kondisi seperti itu tidak dapat dibiarkan, karena para pendidik diarahkan oleh pejabat yang juga ikut berlaga dalam Pilkada untuk memilih dirinya.

“Saya menangkap kesan, acara itu digelar untuk keperluan pembentukan opini ditujukan untuk memilih salah satu calon (Miratul Mukmini-Djarno/Raja) tertentu,” tegas Riya Ahmadi lagi.

Hal yang sama juga dikatakan tim Sukses dan Pemenangan SMS, Eko Wardoyo masalah itu sebagai bentuk pelanggaran dilakukan pejabat. Oleh karena itulah, pihaknya segera melaporkan temuan itu kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas (Panwas).

 

“Masalah harus ditindaklanjuti, jika tidak ada tindakan apa-apa? Kami tentunya akan menempuh jalur hukum,” paparnya. [jun/kun]

 

 

 

Sumber : http://www.beritajatim.com

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: