Oleh: sastrosuwiryo | Oktober 3, 2009

Tepatkah pemakaian unsur –isasi?

Unsur –isasi yang digunakan dalam bahasa Indonesia berasal dari ­–isatie (Belanda) atau –ization (Inggris). Unsur itu sebenarnya tidak diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Meskipun demikian, unsur itu ada di dalam pemakaian bahasa Indonesia karena diserap bersama-sama dengan bentuk dasarnya secara utuh. Sebagai gambaran, perhatikan contoh berikut.

modernisatie, modernization menjadi modernisasi

normalisatie, normalization menjadi normalisasi

legalisatie, legalization, menjadi legalisasi

Contoh itu memperlihatkan bahwa dalam bahasa Indonesia kata modernisasi tidak dibentuk dari kata modern dan unsur –isasi, tetapi kata itu diserap secara utuh dari kata modernisatie atau modernization. Begitu juga halnya kedua kata lain, yaitu normalisasi dan legalisasi.

Mengingat bahwa akhiran asing –isasi atau –zation tidak diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi –isasi, sebaiknya akhiran itu pun tidak digunakan dalam pembentukan kata baru bahasa Indonesia.  Sungguhpun demikian, para pemakai bahasa tampaknya kurang menyadari aturan itu. Pada umumnya, pemakai bahasa tetap beranggapan bahwa –isasi merupakan akhiran yang dapat digunakan dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, muncul bentukan baru yang menggunakan unsur itu, seperti turinisasi, lelenisasi, lamtoronisasi, hibridanisasi, dan rayonisasi. Melihat bentuk baru itu, timbul pertanyaan tepatkah bentukan baru itu?

Sejalan dengan kebijakan bahasa yang kita anut, unsur asing yang ada padanannya di dalam bahasa kita tidak diserap karena hal itu bisa mengganggu upaya pengembangan bahasa indonesia.

Sesuai dengan kebijakan itu, sebenarnya kita dapat menggunakan afiks bahasa Indonesia untuk menghindari unsru –isasi. Dalam hal ini, afiks atau imbuhan pe-…-an, atau per-…-an dapat digunakan sebagai pengganti akhiran asing itu.

Kata modernisasi, normalisasi, dan legalisasi, misalnya, dapat diindonesiakan menjdai pemodernan, penormalan, dan pelegalan.

Dengan cara yang serupa, bentuk kata yang setipe dengan turinisasi pun dapat diubah menjadi seperti berikut.

turinisasi menjadi Perturian
lamtoronisasi menjadi Perlamtoroan
lelenisasi menjadi Perlelean
hibridanisasi menjadi Perhibridaan
rayonisasi menjadi perayonan

Jika pengimbuhan dengan per-…-an itu menurut rasa bahasa kita kurang sesuai, kita pun dapat memanfaatkan kosakata bahasa Indonesia yang lain untuk menyatakan pengertian yang sama misalnya dengan istilah pembudidayaan …. Istilah itu dewasa ini sudah sering digunakan, dengan arti proses atau tindakan membudidayakan. Misalnya, pembudidayaan udang, berarti ‘proses atau tindakan membudidayakan udang.’ Sejalan dengan itu, kita pun dapat membentuk istilah

pembudidayaan turi

pembudidayaan lamtoro

pembudidayaan lele

pembudidayaan hibrida

sebagai pengganti turinisasi, lamtoronisasi, lelenisasi dan hibridanisasi.

Kata rayonisasi dan setipenya, yang tidak termasuk tanaman atau hewan, tidak tepat bila diganti dengan pembudidayaan rayon karena rayon tidak termasuk jenis yang dapat dibududayakan. Oleh karena itu, unsur –isasi pada ­rayonisasi lebih tepat diganti dengan imbuhan pe-…-an sehingga bentuknya menjadi perayonan, yang berarti ‘hal merayonkan’ atau ‘membuat jadi rayon-rayon’.

Dengan menggunakan kekayaan bahasa kita, untuk menggantikan unsur-unsur bahasa asing, berarti kita pun telah menanamkan kecintaan terhadap bahasa sendiri.

Sumber : Buku Praktis Bahasa indonesia 1


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: